BANDUNGFOOTBALL.COM —Ratusan kilometer dari kemegahan lampu sorot dan gemuruh tribun stadion di kota besar, hari pembukaan di ujung Pulau Jawa memiliki caranya sendiri untuk merayakan pesta.
Di sebuah kawasan dalam provinsi yang terletak di ujung kulon Pulau Jawa, yaitu Banten, deru angin dan aktivitas harian warga seketika dihangatkan oleh pendar cahaya dari layar-layar kecil yang menemani berbagai momen.
Sabtu, 25 Juli 2026, seremoni pembukaan Piala Presiden resmi bergulir. Bagi masyarakat di kota-kota penyelenggara, ajang ini adalah panggung gengsi dan pesta pramusim. Namun bagi warga di sudut terluar pulau ini, tayangan tersebut adalah sebuah oase, tempat rehat sejenak dari penatnya tumpukan rutinitas harian. Sepak bola terbukti tidak pernah menuntut tempat yang megah untuk dicintai.
Selingan di Balik Timbangan

Di lorong pasar tradisional yang mulai lengang menjelang petang, suasana justru terasa hangat. Mang Heri, seorang pedagang sayur, tampak asyik memelototi layar handphone miliknya di sela-sela melayani pembeli. Sore itu, ia menyempatkan diri memantau keseruan laga pembuka antara DPMM FC asal Brunei Darussalam melawan Tampines Rovers asal Singapura yang tersaji di layar ponsel yang diganjal pas di atas kalkulator dagangannya.
“Iya, iseng sambil nunggu pembeli sekalian mantengin Piala Presiden,” ujar Mang Heri sambil tersenyum ramah.
“Seru aja sekarang nonton turnamen begini, apalagi ada tim-tim luar negeri yang main di Indonesia. Bagus banget buat tontonan dan hiburan kita di pasar,” imbuhnya.
Hiburan di Antara Antrean

Kemeriahan itu masih berlanjut saat sore hari menjelang petang di sebuah SPBU. Di tengah antrean kendaraan yang mengular untuk mengisi bahan bakar, Pak Amin memanfaatkan waktu luangnya dengan menatap layar ponsel di genggamannya. Sama seperti di pasar, ia turut memantau jalannya pertandingan antara DPMM FC asal Brunei Darussalam kontra Tampines Rovers asal Singapura sore itu sebagai teman setia di tengah penatnya antrean.
“Asyik banget sore-sore bisa nonton bola di HP sambil nunggu giliran,” kata Pak Amin sambil tersenyum kecil di atas motornya.
“Nggak sabar juga nih, besok-besok tim-tim luar negeri ini bakal bertemu sama tim-tim lokal di Indonesia, pokoknya bakal seru banget,” ujar bapak-bapak berkumis itu.
Sorak Suporter di Sukamulya

Puncak keriuhan warga malam harinya pecah di sebuah lapangan terbuka di kecamatan berbeda, Sukamulya.
Suasana malam Minggu itu berubah semarak ketika sejumlah warga lintas generasi pendukung Persib Bandung berkumpul untuk menggelar nonton bareng (nobar) laga big match antara Persib Bandung melawan Arema FC. Yang membuat suasana makin unik dan meriah, layar proyektor tancap yang memancarkan pertandingan malam itu ditenagai dayanya menggunakan aki dari sebuah motor Viar yang terparkir di depan layar. Sederhana, kreatif, namun penuh gelora kebersamaan.
Di tengah kerumunan penonton yang bersorak riuh, Fikri tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Mengenakan atribut kebanggaan, ia menikmati jalannya laga Persib di tengah gemuruh suara Bobotoh yang hadir.
Sebenarnya, warga di sini sangat ingin datang langsung ke stadion, apalagi harga tiket pertandingan Piala Presiden dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp50.000 untuk semua kategori. Namun, tingginya antusiasme publik membuat tiket langsung ludes terjual dalam sekejap begitu dibuka.
Saat ditanya mengenai pilihannya untuk menikmati laga lewat nobar, Fikri menanggapinya dengan santai.
“Mau di stadion atau nobar gini, yang penting tetap bisa dukung Persib. Apalagi nobar jadi rame banget pas malam Minggu gini,” ujar Fikri di tengah riuhnya nobar.
“Dapat hiburan seru dari Piala Presiden aja udah bikin senang banget, daripada enggak ada pertandingan sama sekali,” cetus pria generasi Milenial itu.
Ungkapan polos dari para pedagang sayur dengan layar yang diganjal dengan kalkulatornya, pengendara di antrean bensin sore hari, hingga warga di nobar berdaya motor Viar ini menjadi gambaran jujur tentang bagaimana sepak bola bekerja di tingkat tapak. Di sela-sela timbangan pasar, deru SPBU, hingga bentangan layar proyektor sederhana, bola yang menggelinding adalah panggung hiburan paling demokratis bagi rakyat.
Tak ada tiket tribun mewah di tempat ini. Yang ada hanyalah kebersamaan spontan yang hangat. Peluit panjang penanda berakhirnya laga memang berbunyi di stadion megah sana, tetapi di ujung Pulau Jawa, hangatnya rasa persaudaraan dan kebahagiaan sederhana itu telah menyala sepanjang hari. Piala Presiden boleh jadi milik kota-kota besar yang megah, namun esensi kebahagiaannya telah lama sampai dan bermukim di hati rakyat.
Hasil Pertandingan Hari Pembuka, Sabtu (25/7/2026):

- DPMM FC (Brunei Darussalam) 2-2 Tampines Rovers (Singapura)
- Persib Bandung (Indonesia) 1-0 Arema FC (Indonesia)
Penulis: Novirahmaya


Discussion about this post