BANDUNGFOOTBALL.COM –Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong belum lama ini mengutarakan keinginannya membawa Timnas Indonesia U-19 ke negara asalnya, Korea Selatan untuk pemusatan latihan (TC).
Mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu menilai Negeri Ginseng terbilang aman dari wabah virus corona atau Covid-19.
Keinginan Shin Tae-yong tersebut dikomentari oleh pelatih kepala Persib Bandung, Robert Alberts. Menurut pria berusia 65 tahun ini, hal itu sulit terwujud lantaran tidak logis.
Maklum, Robert Alberts sudah tak asing lagi dengan Korea Selatan. Pasalnya, juru taktik asal Belanda itu pernah menjadi direktur teknik hingga pelatih timnas junior di Negeri Gingseng.
Robert Alberts mengomentari hal ini dalam kanal YouTube pribadi miliknya yang diunggah pada 12 Juli 2020.
“Saya pernah bekerja di Korea Selatan selama tiga sampai empat tahun, dimulai pada Piala Dunia 2002, ketika itu saya juga melatih timnas junior di sana. Saya tahu bagaimana di sana, skena sepakbola di sana dengan cukup baik, saya tahun negaranya. Itu seperti hal yang menarik, seperti bukannya kita yang mendatangi gunung, tapi gunung yang mendatangi kita,” cetus Robert Alberts.
Eks pelatih Arema FC itu juga menilai akan menjadi repot jika skuat Garuda harus menjalani karantina selama dua minggu sebelum menjalani pemusatan latihan.
“Dan tentu saja, ini merupakan impak yang sangat besar di Indonesia. Saya selalu mendukung tentang segala hal yang menyangkut pengembangan sepakbola di Indonesia, juga orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi saya harus mempertanayakan beberapa hal dari sisi logika saya. Apakah sangat logis timnas kita jauh-jauh terbang ke Korea dan harus menjalani karantina dua pekan di sana sebelum latihan dimulai,” sambungnya.
Lebih lanjut, Robert Alberts juga mengklaim berlama-lama di Korsel untuk melakukan TC adalah sebuah keborosan yang semestinya dihindari pada kondisi sulit seperti ini.
Apalagi, PSSI juga telah memangkas gaji pelatih hingga pemain di klub-klub Liga 1 2020.
“Itu terlihat sangat tidak logis dan pastinya memakan biaya yang sangat besar. Sedangkan kita di sini terpaksa mendapatkan gaji hanya 25 persen dari normal,” cetus Robert.
“Saya punya hak untuk bicara di sini, karena ini terjadi kepada saya juga. Mereka bilang mereka punya masalah dengan uang, makanya di sini kami harus mengerti jika gaji dipotong. Dan saya juga dengar pelatih timnas yang sekarang terkena pemotongan gaji sebesar kurang lebih 75 persen,” bebernya.
Pelatih yang telah menukangi Persib sejak musim lalu itu juga mengatakan bahwa anggaran tersebut justru bisa menjadi subsidi untuk menyongsong lanjutan kompetisi musim 2020.
“Jika itu benar, itu tidak bagus. Karena di sini kami bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu membangun sepakbola Indonesia. Mengirim tim ke Korea untuk waktu yang panjang bukan solusi bijak secara finansial. Uang tersebut bisa digunakan untuk subsidi klub untuk memulai liga, dan mempersiapkan pemusatan latihan timnas di Indonesia,” kata Robert menjelaskan.
“Bagi saya, itu terdengar lebih bijak. Dengan begitu para pemain bisa berlatih dengan nyaman di sini, dengan daerah yang sudah mereka kenal, dan bisa berpikir untuk mengirim mereka bertanding di luar negeri ketika segalanya sudah lebih aman,” pungkasnya.


Discussion about this post